Sports

Sports

Totaliterisme Indah Karya The Clockwork Orange /PART II-END/

TrenIndo.com"Di Spanyol, 22 pemain berdoa sebelum pertandingan dimulai. Jika doa itu berhasil, setiap pertandingan akan berakhir seri." - Johan Cruyff -

Tidak ada yang meragukan kapasitas Cruyff sebagai salah satu legenda yang terus hidup di hati penggemar sepakbola. Tapi setiap manusia pasti punya sisi putih dan hitamnya sendiri. Berbicara soal Total Football, pikiran kita nampaknya akan selalu melekat pada Johan Cruyff, Rinus Michels, dan timnas Belanda di tahun 1974. Pemilik nomor punggung 14 ini adalah aktor yang berperan penting secara instrumental terhadap taktik Rinus Michels (pelatih Belanda yang dulunya adalah anak asuh Jack Reynolds di Ajax Amsterdam). Pergerakan yang dinamis, kemampuan mengontrol ruang yang ada, dan mampu bermain di posisi apa saja adalah kedigdayaan total football yang sesungguhnya. Cruyff-lah yang menjadi konduktor dalam sebuah orkestra megah yang sedang berlangsung di lapangan. Tidak lupa juga peran dari Johan Neeskens, Johny Rep, Rob Rensenbrink, Rud Krol yang adalah contoh beberapa musisi handal, diselaraskan oleh komando sang dirijen dan membentuk harmonisasi yang indah.

"Bermain sepak bola sangat sederhana, tapi bermain sepak bola secara sederhana adalah hal yang paling sulit ada." Begitu bunyi kalimat yang pernah diutarakan Cruyff. Bila mengambil dari sudut pandang ruang, sepakbola adalah soal menyerang (menghasilkan gol) dan bertahan (tidak kebobolan). Saat menyerang anda melihat, membaca ruang dan memanfaatkan lebar lapangan, sementara dalam bertahan anda mempersempit ruang gerak lawan. Setiap pemain akan melakukan tugas sesuai dengan peran dan posisinya. Berbeda dengan Cruyff dan pelatihnya Michels, "Dalam tim saya, kiper adalah penyerang pertama dan striker adalah pertahanan pertama." Setiap pemain mampu bermain di manapun, semua dapat saling bertukar peran, dan hal terpenting adalah menguasai bola dan berusaha mendapatkannya kembali saat kehilangan. Jan Jongbloed, kiper Belanda saat itu menjadi sweeper keeper, posisi yang saat ini mungkin sama persis dengan Manuel Neuer, mendistribusi operan guna membangun serangan, ataupun berperan sebagai bek saat rekan setimnya mengandalkan pressing dan garis pertahanan tinggi plus taktik offside trap (jebakan offside). Secara tidak langsung Cruyff mengutamakan penyerangan baik sebagai upaya mencetak gol atau pertahanan sejatinya. Dia mencintai permainan ofensif. Menurutnya, "Hanya ada satu bola, Anda perlu memilikinya."

Di saat sepakbola dikuasai oleh Catenaccio (Pertahanan Grendel Italia), Jogo Bonito (Gaya khas samba Brazil mengutamakan skill individu) atau Panzer (Kekuatan fisik khas Jerman), Rinus Michels dan Johan Cruyff memberikan terobosan besar. Jika diibaratkan dalam dunia seni, keduanya adalah seniman avant-garde yang mempopulerkan seni postmodern, menentang modernisasi. Dalam musik, dia sangat cocok digambarkan sosok David Bowie, musisi revolusioner yang menuangkan unsur sains fiksi (space), alter-ego ke dalam glam-rocknya di tahun 70-an.

Lewat Barcelona dan Ajax, Johan tetap mempertahankan filosofinya yang mungkin lebih tepat egonya sendiri. Dia berkata, "Kualitas tanpa hasil adalah hal sia-sia. Hasil tanpa kualitas adalah hal yang membosankan." Di lapangan dia menghasilkan totaliterisme indah. Tidak memberikan lawan sedikitpun kesempatan untuk berlama-lama menguasai bola, menciptakan permainan kolektif demi mencapai tujuan bersama dibanding kesuksesan masing-masing individu. Namun, pada akhirnya totaliterisme-nya berlanjut hingga ke luar lapangan. The Clockwork Orange, (julukan Cruyff diambil dari sebuah novel yang diadaptasi menjadi film; kebetulan Belanda identik juga dengan warna oranye) tidak menyediakan tempat sedikitpun untuk menerima paham lain dalam dunia sepakbola selain permainan menyerang yang dianggapnya sebagai yang utama dan terbaik. Hal ini membuat dia secara vokal dan terang-terangan mengkritik cara bermain Italia, taktik Jose Mourinho yang sukses di klub, juga negaranya sendiri di tahun 2010 saat dikalahkan Spanyol 1-0. Sepakbola modern yang telah menjadi industri glamour dimana setiap klub berusaha mendapat pemain terbaik dengan biaya mahal pun menjadi sorotannya. Tetapi lagi-lagi ini mengenai sudut pandang seseorang. Setiap orang tentunya punya pendapat dan alasannya masing-masing. Mungkin saja anti-football (sepakbola negatif) itu tidak ada. Ketika segala cara yang dilakukan untuk meraih kemenangan adalah hal yang negatif, apa bedanya dengan mendapatkan kepuasan akan keindahan sepak bola menyerang dengan melakukan semua cara yang tersedia? Termasuk menjatuhkan paham sepakbola lainnya. Toh, nyatanya untuk mendapatkan kedua tujuan tersebut, tetap mengandalkan sikap yang kurang lebih sama, menghalalkan segala cara.

Di balik suara mayornya menanggapi gaya bermain defensif, keteguhan hatinya terbukti dapat membuat dunia persepakbolaan menjadi lebih berwarna. Rasa cinta akan sepakbola, membuat dia mendedikasikan diri membangun Yayasan Johan Cruyff yang telah menyediakan lebih dari 200 lapangan streetfootball untuk untuk anak-anak dari semua latar belakang agar dapat bermain sepakbola jalanan bersama-sama. 22 negara, termasuk Israel, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat dan Meksiko adalah tempat dimana dia membangun lapangannya itu. Begitupun dengan Institusi pendidikan Johan Cruyff. Sumbangsih total dari The Clockwork Orange, akan menjadi warisan berharga bagi dunia sepakbola. Dia akan selalu dirindukan. (RBT)


Pasar Segar