Sports

Sports

Totaliterisme Indah Karya The Clockwork Orange /PART 1/

TrenIndo.comMantan pelatih Argentina dan Barcelona, César Luis Menotti pernah mengatakan, “Ada 4 raja dalam dunia sepakbola – Di Stéfano, Pelé, Cruyff and Maradona. Yang kelima belum juga memunculkan diri, kami masih menunggu kehadirannya. Tidak bisa diragukan lagi, itu seharusnya menjadi milik Mesi, namun sejauh ini, dia belum setara dengan para raja.”

Kamis kemarin, 24 Maret 2016, publik sepakbola dibuat larut dalam haru biru kesedihan atas wafatnya salah satu pemain bola terbaik sepanjang masa asal negeri bunga tulip, Johan Cruyff. Legenda timnas Belanda meninggal dunia akibat kanker paru-paru di kota Barcelona. Pada bulan Oktober 2015 sosok yang dijuluki The Clockwork Orange ini, di-diagnosa secara medis mengidap penyakit yang bahasa lainnya disebut karsinoma. Sempat menjalani operasi bypass jantung di tahun 1991 yang menghentikan kebiasaannya merokok, pemain bola yang masuk daftar 100 orang hebat di Belanda ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di usia 68 tahun.

Cruyff menikah dengan Danny Coster 2 Desember 1968 dan dikaruniai 3 orang anak, Chantal, Susila dan Jordi. Ia dikenal sebagai orang yang setia dan sangat dekat dengan keluarganya. Rasa kehilangan disampaikan oleh rekan pesepakbola beda nega yang juga Legenda sepakbola Jerman menyusul kepergian pemilik nama lengkap Hendrik Johannes Cruijff ini. Franz Beckenbauer berkata: “Saya terkejut, Johan Cruyff telah meninggal. Dia bukan hanya teman yang sangat baik, tapi juga saudara bagiku.” Begitupun dengan mantan klubnya Barcelona yang mengekspresikan kesedihan dan duka mereka saat mengetahui berita kematian pria yang lahir di kota Amsterdam 25 April 1947 silam. Pihak klub menambahkan: "Kami akan selalu mencintaimu, Johan.

Beristirahatlah dalam damai." Selama berseragam Belanda, Cruyff telah bermain sebanyak 48 pertandingan dengan catatan total gol sebanyak 33 dan membawa negaranya ke final Piala Dunia 1974, meski partai puncak dimenangi oleh Jerman Barat 2-1. Sebagai pelatih dia sukses membawa Barcelona meraih Piala Eropa pertama kali tahun 1992.

Pesepakbola ketiga setelah Bican dan Puskás yang namanya dijadikan IAU (International Astronomical Union) sebagai salah satu nama asteroid atau planet kecil (14282 Cruijff) di tahun 2010, adalah sosok yang memiliki pengaruh luar biasa dalam perkembangan olahraga terpopuler di dunia ini. Selain trik dribble khasyang akhirnya terkenal dengan sebutan Cruijff Turn / Cruyff Turn dan dipakai pemain bola lainnya, dunia akan selalu mengingat permainan indah di World Cup (Piala Dunia) 1974, mengalahkan juara bertahan sebelumnya, Brazil.

Di level klub, Cruyff memulai karirnya dengan Ajax Amsterdam, memenangkan delapan gelar Eredivisie dan tiga Piala Eropa dimenangkannya secara berturut-turut dari tahun 1971-1973. Pada tahun 1973 ia pindah ke FC Barcelona, memenangkan La Liga di musim pertamanya dan diberi gelar sebagai Pemain Terbaik Eropa tahun itu. Setelah pensiun bermain pada tahun 1984, Cruyff menjadi sangat sukses sebagai manajer Ajax dan kemudian FC Barcelona.

Menjadi pelatih klub asal Catalan Barcelona, Almarhum sukses memenangkan empat gelar La Liga berturut-turut dari musim 1990-1991 sampai 1993-1994 dan meskipun pada akhirnya ia dipecat oleh Núñez, presiden klub pada tahun 1995, ia terus hidup menjadi legenda klub. Total 11 gelar yang dipersembahkannya sebagai manajer adalah raihan terbanyak sebelum digeser oleh muridnya sendiri Pep Guardiola dengan koleksi 15 gelar. Dia dinobatkan menjadi presiden kehormatan Barcelona, menghargai apa yang telah dia buat bagi klub baik sebagai pemain ataupun manajer. Gelar ini didapatkan dari presiden klub Sandro Rosell di tahun 2010.

Di era modern ini kita dapat menyaksikan buah dari Total Football (totaalvoetbal), filosofi sepakbolayang pertama kali diusung Jimmy Hogan dan disempurnakan oleh Jack Reynolds lewat Ajax Amsterdam kerap kali menjadi akar atau landasan permainan sebuah klub. Melalui peningkatan dan modifikasi dari versi sebelumnya, dasar dari gaya bermain bola ini secara siknifikan mempengaruhi karir sepakbola dari pemain dan pelatih abad ini, terutama Pep Guardiola. Manajer Barcelona dari tahun 2008-2012 berkata "Selama karir saya, saya mencoba menerapkan apa yang saya pelajari dari Johan Cruyff. Dia mengajarkan saya banyak hal, dan anda dapat melihat fakta bahwa banyak mantan pemain yang telah beralih menjadi pelatih berkat dirinya.” Guardiola menambahkan, "Johan Cruyff membangun katedral, tugas kami adalah mempertahankan dan merenovasinya.”

Selain Guardiola, Gaya bermain dan filosofi sepak bola Cruyff  diyakini telah mempengaruhi manajer terkemuka dan banyak pemain top seperti Frank Rijkaard, Michael Laudrup, Arsene Wenger, Eric Cantona dan Xavi.

Ajax dan Barcelona adalah klub yang akademi mudanya dikembangkan berdasarkan metode pembinaan Johan Cruyff. Filosofinya yang menjadi fondasi membantu kesuksesan internasional Ajax pada dekade 90-an. Keberhasilan sepak bola tim nasional Spanyol yang didominasi pemain Barca dan Madrid selama tahun 2008-2012 terbukti sebagai dampak dari Cruyffian (sebutan paham dan gaya bermain Cruyff) pada dunia sepak bola kontemporer.

Kedua klub di atas adalah tempat dimana dia menghabiskan sebagian besar waktu berkarirnya. Hingga saat ia meninggal, Johan Cruyff tetap menjadi penasihat yang berpengaruh bagi kedua klub, baik Ajax maupun Barcelona. Peraih FIFA Order of Merit di tahun 2010 (anugerah tertinggi dari FIFA karena kontribusi besar terhadap dunia persepakbolaan) berhasil meyakinkan Josep Núñez, presiden F.C Barcelona untuk menghadirkan La Masia, proyek pembinaan pemain muda di tahun 1979. Dengan format serupa seperti akademi Ajax. Dia membangun itu dengan caranya yang unik dan memberikan kesempatan lebih besar terhadap pemain muda untuk dapat menjadi bagian dalam tim senior. Diperlengkapi dengan gaya bermain yang khas dimana operan dan pergerakan adalah kuncinya, dan mengandalkan penguasaan bola dikenal dengan sebutan tiki taka. Graham Hunter pernah berkata, “Jika saja dia tidak membangun proyek ini, Messi sudah pulang kampung ke Argentina di umurnya yang ke-13 tahun karena dianggap sebagai pemain yang kurang berkembang. Iniesta juga belum dapat kesempatan untuk dipilih di skuat utama seperti sekarang ini.”

Mengutip sekaligus membenarkan apa yang pernah dikatakan Menotti di awal artikel ini, Cruyff memang layak dinobatkan sebagai Raja. Warisan berupa pemikiran dan filosofinya, merupakan hal yang melekat erat dengan dirinya dan dapat dinikmati masyarakat sepakbola dunia abad ini. Tidak berlebihan memang gelar ini disematkan, kekuatan prinsip merupakan ciri khasnya sebagai pesepakbola. Ia pernah berkata "Lebih baik jatuh dengan visi anda sendiri daripada harus mengandalkan visi orang lain." Sangat mencintai sepakbola ofensif, Cruyff dikenal sangat vokal dalam menyuarakan kritik soal sepak bola bertahan dan berujung ke paradigma sepakbola negatif. Sebelum era total football, Italia dengan Catenaccio (salah satu paham sepakbola yang mengutamakan pertahanan) memang sempat menguasai persepakbolaan dunia dan Cruyff mengkritik lewat sebuah kalimat sindiran keras, "Italia tidak bisa memenangkan pertandingan melawan Anda, tetapi Anda bisa kalah melawan Italia.

Selayaknya Sang Raja yang sesungguhnya, tak ayal, dia memiliki kuasa dan dominasi yang luar biasa. (to be continued...) (RBT)


Pasar Segar