Entertain

Entertain

Satu Dekade Berjalan, Ada Apa Dengan Twitter

TrenIndo.com - Manusia memiliki berbagai macam kebutuhan dalam menjalani kehidupan dan tak jarang kita temui banyak yang akhirnya frustrasi demi memenuhinya. Hal ini terjadi karena keterbatasan alat pemuas kebutuhan dalam menanggapi tidak terbatasnya kebutuhan manusia atau bagi kalangan masyarakat ekonomi dikenal dengan istilah kelangkaan (scarcity). Dari sudut pandang ilmu yang disebutkan di atas, hal tersebut merupakan masalah fundamental yang bersifat mendasar dan terus ditemui tanpa adanya batasan waktu.

Selaras dengan itu, melalui kacamata psikologi,  teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow cukup jelas menjabarkan suatu tingkatan kebutuhan makhluk hidup yang juga termasuk dalam kelas mamalia ini. Yang pertama ada kebutuhan fisiologi, terletak di dasar piramid, membahas segala kebutuhan soal makan, minum, istirahat dan kebutuhan fisik lainnya. Selanjutnya ada rasa aman berbicara soal stabilitas, perlindungan, kontrol kecemasan akan bencana ataupun kerusuhan. Lanjut ke bagian yang lebih kecil ada kebutuhan sosial, cinta dan rasa memiliki, dan dua teratas ada kebutuhan ego dan aktualisasi  diri. Menarik untuk ditelusuri, elemen ketiga dari teori hierarki kebutuhan psikolog asal Amerika ini. Ya, kebutuhan yang tidak bisa disangkal lagi cukup penting dalam peradaban era modern seperti ini, kebutuhan sosial.

 

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

 

Tak ayalnya kebutuhan fisiologi dan rasa aman, untuk memenuhi kebutuhan ketiga dalam hierarki piramida ini, beragam cara dilakukan, salah satunya komunikasi, baik secara langsung (verbal), non-verbal (bahasa tubuh, cara berpakaian) atau lewat tulisan dan visualisasi. Media Sosial atau Soc.Med merupakan salah satu pemuas kebutuhan psikologi ini, walaupun kebutuhan yang dimaksud berkembang bukan hanya pada aspek sosial semata. Mungkin pada dekade ini wajah media sosial telah berubah seakan memenuhi ego dan aktualisasi diri, dua kebutuhan yang ruangnya paling kecil dan berada di atas hierarki piramida milik Maslow. Penggunanya pun tidak terbatas oleh rentang usia tertentu tetapi lebih menjangkau secara umum keseluruhan masyarakat.

Grafik Info Media Sosial

Hasil survey webtrends, Facebook, Twitter, Instagram,  Youtube, Google+, LinkedIn, Pinterest, Tumblr adalah produk kenamaan yang mencatatkan diri sebagai media sosial terpopuler. Belum lagi ditambah dengan kemunculan Snapchat dan Vine yang siap bersaing merebut hati para pengguna. Mungkin sangat menarik bila kita melihat perkembangan media sosial twitter, yang pada 21 Maret 2016 genap berusia 10 tahun.

Laporan bulan lalu, sampling data dari API Twitter menunjukkan bahwa jumlah tweet per hari yang dibuat oleh pengguna Twitter telah menurun lebih dari setengah sejak puncaknya pada bulan Agustus 2014. Ini tidak mengherankan, karena kedua sektor teknologi media telah mencatat dan memprediksi siklus penurunan selama beberapa tahun. Perubahan CEO pada tahun 2015 dan laporan akan bullying via twitter dari masyarakat umum, politisi dan selebriti membuat popularitas sosial media yang didirikan 21 Maret 2006 ini kian menurun dari hari ke hari.

Saham media sosial berlogo burung biru ini jatuh lebih dari 11 persen dalam perdagangan menyusul pengumuman hasil kuartal ke IV Twitter. Perusahaan mengungkapkan bahwa angka pengguna telah berkurang. Dilaporkan laba kuartal keempat sekitar $710 juta dan dari analis pendapatan Twitter sekitar 12 sen per saham menurut Thomson Reuters. Di sisi lain pendapatan, $ 710 juta untuk kuartal keempat merupakan peningkatan 48 persen menyusul laba $479 juta pada periode tahun lalu. Pendapatan iklan mencapai angka $641.000.000, tapi kurang dari apa yang telah dianalisa Wall Street sebelumnya ($647.700.000).

Ya, twitter makin bertaburan dengan iklan. Setelah dahulu Facebook dikritik karena banyaknya spam. Kini twitter lebih mengutamakan sektor pendapatan lewat hal tersebut. Begitu juga dengan TwitterBot atau pengguna pasif berujung fiktif bermunculan mengganggu ekosistem dunia maya

Apapun laporan statistik atau keuangan, ini juga dapat menjadi pelajaran serius bagi mereka yang menciptakan teknologi baru, terutama inovasi dalam dunia media sosial. Analisis yang ada dapat memberikan sesuatu peringatan bagi mereka yang bekerja di media baru. Ini menunjukkan pentingnya memelihara tidak hanya produk tetapi juga ekosistem yang mengelilinginya.

Ramainya bullying menjadi salah satu faktor banyak pengguna yang akhirnya meninggalkan situs micro-blogging dengan kapasitas 140 karakter. Twitter kewalahan dalam menertibkan ekosistem di dalamnya. Konten porno dan pelecehan lewat kata semakin marak dari tahun ke tahun. Belum lagi dengan tagar trending topic yang mendekati absurd dan kurang bermutu dan twitwar (perang twit yang tidak berujung) dalam menanggapi fenomena atau tren yang lagi populer tersebut. Faktor lainnya adalah kebebasan berkicau oleh kaum yang dianggap menyebarkan isu SARA dan terorisme. Twitter menjadi wadah bebas yang disalahgunakan oleh para penggunanya.  Ini yang kemudian diakui, CEO Twitter Dick Costolo, “Energi kami terhisap sepenuhnya hanya berurusan dengan penyalahgunaan"

Perbandingan jumlah pengguna Twitter, Facebook dan Instagram.(Foto: CNBC)

 
Bukannya fokus kepada keunggulan produk, salah satu pendiri Twitter Jack Dorsey, sudah mulai mengembangkan program algoritma yang serupa dengan media sosial lain seperti facebook. Deretan update-an per post tidak akan lagi berdasarkan pada waktu tetapi lebih secara acak mengikuti selera pengguna dan feed terbanyak.

Burung berwarna biru terlihat semakin kehilangan jati dirinya, kebutuhan masyarakat akan micro-blogging 140 karakter seakan mulai tergeser. Para pengguna aktif media sosial boleh dikatakan kurang puas dan mungkin mencari media pemuas kebutuhan lainnya.  Dibandingkan dengan Instagram dan Pinterest yang fokus kepada kualitas foto, Google+ dengan fitur HangOut dan Facebook yang makin tertib, Twitter semakin kelihatan jalan di tempat, satu-satunya keunggulan yang tersisa adalah autoplay video yang memudahkan pengguna mengakses video terkait dan mengakuisisi periscope untuk membangun kembali popularitasnya.

Respon beragam pun muncul dari pengguna yang berusaha memenuhi kebutuhan sosial, ego dan aktualisasi diri ini. Bagi sebagian pengguna yang hobi menyalurkan kebutuhan berupa ‘curhatan’ akan menggangap ini keuntungan tersendiri dan tidak terlalu memusingkan hal itu. Tidak banyak lagi yang akan memperhatikan dan mereka akan sedikit terhindar dari judge para pengguna twitter lainnya terutama yang masih aktif. Tapi tidak menutup kemungkinan para active users yang lain untuk beralih memenuhi kebutuhannya di media sosial lain. Mungkin juga Twitter punya kebutuhannya sendiri, lebih butuh pendapatan iklan sebagai pemuas kebutuhan dibandingkan pengguna yang hobi berkicau.


Pasar Segar