Technology

Technology

Gerhana, dari Kebutaan Total sampai Radiasi Berbahaya

Manado - Rabu, 9 Maret 2016 menjadi hari dimana sebagian besar daerah Pasifik kebagian kesempatan untuk menyaksikan fenomena gerhana matahari total, khususnya di Indonesia yang menjadi lintasannya.  

 

Seperti dilansir BMKG, kejadian ini akan melintasi 11 Provinsi, wilayah tersebut, yaitu: Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Untuk waktu estimasi dimulainya fenomena yang serupa dengan yang terjadi tahun 1983 ini adalah pagi hari sesuai dengan GMT atau wilayah waktu setempat. National Aeronautics and Spaces Adminstration (NASA) menganggap gerhana matahari total di Indonesia tahun ini spesial dikarenakan terjadi di pagi hari disaat cahaya matahari sangat identik menggambarkan kondisi manusia dalam mengawali sebuah aktivitas. Kaum ilmuwan dan peneliti dari berbagai negara berbondong-bondong datang ke Indonesia guna mengamati dengan jelas fase demi fase dari kejadian yang berhubungan dengan umbra dan penumbra ini. Tidak hanya mereka, begitupun dengan semua lapisan masyarakat menyambut antusias gerhana matahari total baik lewat perayaan adat atau hanya sekedar ingin melihat saja dan ditambah lagi dengan usaha Kementerian Pariwisata yang gencar-gencarnya mempromosikan kota-kota yang dilalui fenomena gerhana ini seperti: Bengkulu, Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Tanjung Pandan, Palu dan Ternate (99%).

 

 

Membahas kejadian yang akan berlangsung kurang lebih 2 hari lagi, tentu saja tidak ada salahnya mengetahui sedikit tentang gerhana.  Gerhana adalah peristiwa tertutupnya sebuah objek disebabkan adanya benda/objek yang melintas di depannya. Kedua objek yang terlibat dalam gerhana ini memiliki ukuran yang hampir sama jika diamati dari Bumi. Contohnya gerhana Matahari dan gerhana Bulan.

 

Khusus peristiwa gerhana matahari terjadi saat posisi bulan terletak di antara bumi & matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Meskipun Bulan berukuran lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. Jenis gerhana matahari pun bermacam-macam mulai dari gerhana matahari total, sebagian, cincin dan hybrida.

 

Dahulu, tentu kita masih ingat dengan larangan melihat gerhana sampai mitos-mitos yang tidak lazim di era modern seperti sekarang. Melihat ke belakang, orang tua mencoba menakut-nakuti anaknya mulai dari radiasi berbahaya yang dipancarkan saat gerhana, ‘kebutaan total’ sampai makhluk-makhluk gaib yang dikait-kaitkan saat fenomena ini terjadi. Dari sedemikian banyaknya argumen yang diberikan, sudah saatnya meluruskan sesuatu sesuai dengan kenyataan yang ada.

 

Waktu kita mengecap pembelajaran di bangku pendidikan sekolah dasar, ada sebuah percobaan sederhana yang melibatkan secarik kertas dan kaca pembesar (lup). Kaca pembesar dihadapkan pada matahari dan pantulan cahayanya menyebabkan terbakarnya kertas tersebut (walaupun proses terbakarnya kertas membutuhkan waktu dan tidak secara langsung). Dari percobaan itu dapat kita simpulkan bahwa cahaya matahari itulah sebenarnya yang dapat merusak, meskipun ada peranan lup yang notabene adalah lensa positif yang mengumpulkan panas di satu titik fokus tertentu. Pernahkah anda menengadahkan wajah melihat matahari secara langsung selama beberapa detik? Saat kembali pada posisi normal, tentu penglihatan kita akan menjadi samar-samar, wajar terjadi ketika berusaha fokus pada satu objek apalagi objek yang dimaksud adalah objek yang memiliki cahaya ultraviolet (UV) tinggi dan solar energy (tenaga surya). Paparan cahaya yang berlebihan dalam melihat cahaya matahari dapat merusak retina mata, kondisi ini dinamakan Solar Retinopathy, yang murni terjadi karena melihat objek yang terlalu terang. Lewat fakta ini mungkin sumber bahaya yang lebih tepat sebenarnya datang dari cahaya matahari sendiri bukan pada gerhana.

 

Dalam wawancaranya dengan majalah  Tempo, Bambang Hidayat, seorang Guru Besar astronomi di Institut Teknologi Bandung  menanggapi informasi mengenai gerhana yang dapat menyebabkan kebutaan total. “Ini adalah larangan yang didasarkan informasi yang keliru, soalnya pada saat gerhana matahari, tak terjadi radiasi tambahan seperti banyak diduga orang.”

Dengan kondisi ini seolah membantah sebagian masyarakat yang bahkan mengurung diri dan keluarganya dalam rumah karena takut adanya radiasi yang merusak sekujur tubuh.

 

Namun, ada saran yang dapat diberikan guna menyaksikan fenomena ini dengan keterbatasan mata manusia. Bila anda ingin menyaksikan fenomena gerhana total seperti layaknya menonton film dokumenter tanpa kehilangan sedetik pun, atau tanpa berkedip sedikitpun sangat disarankan untuk tidak melihat secara langsung dikarenakan bahaya dari sinar matahari dan intensitas cahayanya yang besar bukan pada gerhananya. Tidak sedikit kacamata khusus yang hampir serupa dengan kacamata 3D, kamera proyeksi lubang jarum buatan yang dapat digunakan. Lewat pernyataan di surat kabar Tempo, Hal inipun dibenarkan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Suhardjo yang juga adalah spesialis mata bahwa keberadaan sinar matahari sehari-hari dapat membahayakan kondisi mata, terutama saat matahari terbit di atas pukul 9 pagi. “Kalau terus menerus terpapar UV B mata bisa katarak.” ungkap Suhardjo.

Mengenai bahaya selfie dan berfoto sendiri tidak dapat dibuktikan, karena yang menjadi kekhawatirannya adalah ketika orang melihat matahari dengan mata telanjang dalam durasi yang lama saat mengatur komposisi foto.

 

Dilansir National Geographic Indonesia, sebelum 9 Maret 2016 gerhana matahari total pernah terjadi 24 Oktober 1995, 18 Maret 1988, 22 November 1984, dan 11 Juni 1983 dan akan kembali terjadi di Indonesia pada 20 April 2042 dan 12 September 2053.

Tetapi wilayah Indonesia juga akan dilintasi oleh Gerhana Matahari Cincin dan Total secara bersamaan pada 20 April 2023 dan 25 November 2049.

Untuk wilayah Sulawesi Utara, BMKG Sulawesi Utara lewat undangan terbuka, mengajak masyarakat untuk mengamati bersama di Pantai Firdaus Kema, Minahasa Utara mulai pukul 07.30 WITA.

 

Live streaming pengamatan Gerhana Matahari dari beberapa kota di Indonesia dapat juga diakses di: http://media.bmkg.go.id/gmt

 

(Sumber Tempo, NatGeo, BMKG)

(RBT)


Pasar Segar