Hukum & Kriminal

Hukum & Kriminal

Diduga Terima Upeti, Polda Lepas Oknum Anggota Legislator Manado Narkoba

Manado, Trenindo.com – Penindakan pelaku kasus narkoba di Sulut rupanya hanya gertakan semata. Buktinya, oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado, Sicilia Longdong yang ditangkap karena positif menggunakan narkoba metamfetamine jenis sabu dengan mudahnya dilepas polisi.

Kendati, petugas berhasil mendapat barang haram berat 0,15 gram ditangan Sicilia. Sangat disayangkan. Mengingat, tersangka lain yang tidak kedapatan menyimpan barang bukti, harus mendekam di jeruji besi lantaran menghisap barang tersebut.

Bukan hanya oknum legislator Manado saja yang dilepas petugas Ditresnarkoba Polda Sulut yang dinahkodai Edy Djubaedi. Oknum PNS Dinas PU Minut yang diketahui berduit dan ditengarai ditunggangi intervensi kanan kiri pun diberlakukan status yang sama dengan Sicilia.

Ketika dihubungi via telephone, Diresnarkoba, Kombes Pol Edy Djubaedi mengatakan, Sicilia dan empat pelaku berduit lainnya hanya direhabilitasi. “Mereka hanya direhabilitasi. Hasil assessment mereka direhabilitasi dan rawat jalan. Mereka harus wajib lapor tapi proses hukum jalan terus,” terangnya, Rabu (06/04/2016) sore.

Dijelaskan Edy, Sicilia dipulangkan ke rumahnya sejak Selasa malam. Sicilia kata Edy, harus menjalani wajib lapor, sesuai waktu yang diperintahkan penyidik. Hal yang sama juga dialami empat tersangka yang ditangkap petugas di Deluxe.

Sungguh beda dengan penanganan kasus sebelumnya. Meski telah melewati masa assessment, para tersangka tetap ditahan dan dijebloskan ke sel tahanan. Namun, Sicilia dan empat pelaku terkesan diistimewakan.

Selasa petang, wartawan memergoki sejumlah legislator Manado seperti Michael Kolonio dan Lily Walanda menjenguk Sicilia di ruang Subdit III Ditresnarkoba yang bersebelahan dengan SPBU Mapolda. Michael dan Lily diperkenankan membesuk Sicilia.

Padahal sesuai aturan, dalam masa pengembangan, tersangka tidak boleh bertemu dengan siapapun. Kecuali keluarga, itupun hanya diberikan waktu singkat oleh petugas. Saat itu pula jam besuk untuk tersangka sudah lewat waktu. Dimana, jam besuk hanya sampai pukul 17.00 Wita.

Ketika ditanyakan alasan Sicilia dan empat pelaku hanya direhabilitasi, sedang tersangka yang diamankan sebelumnya tidak, Kombes Pol Edy mengaku kalau tersangka lainnya ditahan untuk mengembangkan jaringan. Mirisnya, terhadap Sicilia dan empat lainnya hanya ditetapkan sebagai pengguna atau pemakai, tidak ada jaringan lain.

Pernyataan Edy terkesan membela Sicilia dan empat tersangka lain. Sebab dari pengalaman wartawan Polda Sulut, setiap tersangka narkoba  harus menjalani masa tahanan selama beberapa waktu dan selanjutnya dilimpahkan ke pihak Kejaksaan.

Baru kali ini wartawan Polda mendapati tersangka tidak ditahan karena dilindungi assessment. Terhadap para tersangka dalam kasus yang lain, tidak pernah dikenakan istilah assessment. Kondisi ini pun menjadi tanda tanya besar dikalangan awak media. Dari awal sejak mereka ditangkap.

Meski masih dalam proses pengembangan, petugas enggan membeber keberadaan mereka. Bahkan beredar kabar bahwa Sicilia akan dilepas. Ketika konfrensi  pers, hadir pula sejumlah pejabat lainnya, termasuk Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut.

Wartawan pun heran karena baru kali ini beliau hadir, sebelumnya tidak. Setelah diselidiki, ternyata salah satu tersangka yang diamankan petugas di Deluxe bermarga Lumentut. Dia merupakan PNS PU Minut warga Tomohon.

Robby Liando, tokoh muda Sulut menduga, Sicilia, Marsiano, Rudy, Andrew dan Shandy ‘lolos’ dari Rutan Mapolda karena diduga adanya upeti yang mengalir ke tangan petugas serta adanya intervensi dari sejumlah pihak. “Mungkin ada upeti atau intervensi dari pihak lain,” terang Liando.

Sebelumnya, Ketua LCKI Sulut, Vicktor Jouke Lolowang menduga jika Polda Sulut dan tersangka ‘main mata”. Indikasi itu mencuat ketika Polda Sulut menggelar konfrensi pers tanpa disertai para tersangka pengguna barang haram.

“Tidak seperti biasanya, setiap mengelar konferensi pers terkait penangkapan narkoba, Polda biasanya menghadirkan tersangka dan barang buktinya. Tapi ini tidak. Polisi terkesan main mata, sehingga tersangka tidak dihadirkan,” kata Lolowang, Selasa (05/04/2016).

Ia pun membandingkan soal penangkapan narkoba yang dilakukan Polri maupun BNN diluar daerah Sulut yang selalu menghadirkan tersangka dan barang buktinya ketika menggelar konfrensi pers.

Seperti penangkapan oknum Bupati Ogan Ilir, langsung dibeberkan dan dihadirkan saat konferensi pers, kendati kata Lolowang tersangka baru sebulan dilantik.

“Begitu juga dengan penanganan kasus narkoba lainnya. Para tersangka dan barang bukti digelar bersamaan. Memang alasannya masuk akal, karena mengikuti assessment. Tapi itu kan bisa dilakukan setelah konferensi pers, seperti tersangka yang lebih dulu ditangkap pada operasi sebelumnya,” sambungnya.

Sicilia sendiri terjaring dalam operasi Bersinar di tempat karaoke Happy Puppy Mantos Manado, Jumat (01/04/2016) dinihari. Bukan hanya Sicilia, dalam operasi itu, petugas juga berhasil menjaring tiga pegawai Dinas PU Minut bersama satu leadis Deluxe.

Ketika diamankan, tiga pegawai Dinas PU dan leadis sudah dalam keadaan mabuk mengkonsumsi shabu. Petugas pun hanya bisa mengamankan alat hisap atau bong di Deluxe.(JEM)

 

Foto: Sicilia Cs' saat konferensi pers di Mapolda Sulut.


Pasar Segar