Sports

Sports

Be My Valentine, Pep

Manado-Siapa yang tak kenal sosok Pep Guardiola? Mantan pelatih Barcelona ini begitu akrab di telinga kalangan pecinta sepakbola, didukung prestasi segudang, di usianya yang masih tergolong muda sudah mencatatkan diri di jajaran pelatih top dunia. 


Sekilas, judul artikel di atas mungkin akan membuat penikmat sepakbola merasa tergelitik, tapi bukan hanya sekedar tagline tanpa makna, faktanya pelatih berusia 45 tahun ini selalu menjadi bahan perbincangan dan rebutan. Lihat saja Chelsea, Manchester United yang mencoba mendapatkan jasa ahli strategi tersebut. Berstatus sebagai manajer klub asal kota Munich, FC. Bayern München hingga akhir musim 2015/2016, musim depan Guardiola resmi menapaki tantangan baru di kompetisi Liga Inggris. Bukan United, namun klub yang berasal dari kota yang sama, Manchester City.

 

Setiap klub di dunia seakan tidak dapat menolak bila diberi kesempatan untuk dilatih seorang Pep. Mantan pemain tengah Barcelona ini diibaratkan sosok idola semasa SMA ataupun kuliah. Kalau Guardiola itu gadis, setiap pria akan berusaha mendekati dan mengajaknya ke pesta dansa atau bahkan berkencan, karena pesonanya yang terkesan sempurna dan begitu menggoda. Akan tetapi, setiap gadis cantik, pintar dan menyenangkan umumnya akan selalu punya standar atau selera khusus saat berurusan dengan banyak pria pilihannya. 

 

Bila berandai-andai, kriterianya mungkin bukan sekedar laki-laki biasa bahkan bad boy, seperti kebanyakan kaum hawa di zaman ini, terbukti dari klub-klub yang pernah dilatih oleh pemilik nama lengkap Josep Guardiola Sala. Sampai sejauh ini, mantan pemain AS. Roma ini telah menukangi 3 klub; Barcelona B, Barcelona dan Bayern München adalah ketiga klub yang pernah merasakan hasil pekerjaan tangannya. Kedua tim terakhir (tidak termasuk Barcelona B) yang dilatihnya memiliki reputasi dan sejarah yang kuat, memiliki kekuatan finansial, bernasib baik serta sukses meraih banyak penghargaan. Ibaratkan seorang pria, Barcelona dan Bayern adalah lelaki tipe alpha, mempunyai wajah ganteng, kemampuan fisik bagus, populer lewat ekskul basketnya, pintar di kelas dan pastinya memiliki materi (harta) berlimpah.

 

Bila berkaca dari sudut pandang ini, mungkin sangat wajar bila Pep menentukan pilihan untuk mengarungi kompetisi Liga Inggris, Liga yang terkenal sangat kompetitif. Setelah sukses di Spanyol dan Jerman tak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru, dengan catatan ‘asalkan’ dia bersama klub yang tepat. Sang entrenador berdarah Spanyol ini mungkin tidak salah, mempertimbangkan pilihannya jatuh ke tangan tim yang mapan dan salah satu yang sangat superior di kontes Liga Primer Inggris selama lima tahun terakhir. 

 

Dia tentu saja tidak ingin merusak CV-nya yang telah dibangun dengan baik dengan melatih tim pesakitan atau tim yang tidak konsisten lainnya. Kalau melihat Jüergen Klopp yang memilih dan mengutamakan proses panjang dalam melatih sebuah tim, Pep mungkin sedikit berbeda, dia lebih cenderung seorang perfeksionis sejati. Musim depan Guardiola sudah pasti akan melatih tim dengan karakter alpha lainnya, Manchester City, dan menggeser posisi Manuel Pellegrini. 

 

Perlu diperhatikan bahwa City adalah satu-satunya klub EPL yang masih berlaga di 4 kompetisi. Sangat disayangkan tentunya bagi aktor lain seperti Pellegrini yang ‘tidak jelek-jelek amat’, bahkan boleh dibilang sangat berkualitas. Kalem saat berhadapan dengan media Inggris yang mempunyai segudang pertanyaan, sukses juga membawa The Citizens menjadi kampiun Liga Inggris dan Piala Liga di musim 2013-2014. Tapi bila realitanya, Manuel harus dibandingkan dengan Pelatih Terbaik La-Liga dari tahun 2009 hingga 2012 ini, mungkin itulah saat yang tepat bagi mantan pelatih Malaga dan Real Madrid menerima kenyataan dan angkat kaki dengan ikhlas dari Etihad Stadium.

 

Bagi Pelatih berkepala plontos sendiri, ini mungkin merupakan keputusan cerdas, di City dia akan berkolaborasi dengan Executive Officer, Ferran Soriano mantan GM Barcelona serta Direktur Olahraga, Txiki Begiristain, yang tahu tentang sepakbola dan notabene berasal dari Spanyol, kewarganegaraan yang sama dengan dirinya sendiri. Tentunya akan sangat mudah untuk bekerja sama apalagi melihat ambisi besar Manchester City di kancah Eropa, bukan tidak mungkin kendali dan kepercayaan penuh terhadap Pep akan sangat menguntungkan dan membuat dirinya bebas berkreasi memimpin klub Manchester Biru ini.

 

Landasan, gaya bermain dan tujuan klub yang jelas kurang lebih sama ketika dia menahkodai Barcelona dan Munchen juga merupakan bahan pertimbangan tersendiri. Melihat kesempatan ini, mungkin sudah bukan saatnya kita menilai bahwa Pep Guardiola adalah tipikal pelatih ‘The Right Man in The Right Place’, ini saatnya untuk mengapresiasi lebih kejeliannya dengan melabelkan predikat ‘The Perfect Man in The Perfect Place’. Buat klub-klub yang bermimpi untuk meminangnya mungkin harus lebih sering berkaca apakah standarnya sudah sesuai dengan kriteria Pep? Kalau sudah barulah kalimat ini siap untuk diutarakan. Be My Valentine, Pep! (RBT)


Pasar Segar