Sports

Sports

Ada Apa Dengan Duo Milan

TrenIndo.com - Senasib, duo Milan terkapar pada giornata 31 dengan skor 2-1. Sempat unggul lebih dulu Ac Milan harus mengakui keunggulan tuan rumah Atalanta, sementara Inter Milan takluk di kandang oleh tamunya Torino. Hasil tersebut membuat keduanya terdampar di posisi lima dan enam klasmen sementara Seri A.

Ada apa dengan dua tim asal kota Milan ? pertanyaan itu mungkin timbul di benak pecinta sepakbola. Maklum saja dalam beberapa musim terakhir kedua tim tersebut gagal dalam perebutan gelar scudetto. Jangankan scudetto, dalam mengamankan posisi zona Liga Champions terasa sulit bagi kedua tim ini. Fans  tentu saja rindu dengan masa kejayaan mereka, yang masih membekas di ingatan kita tentu saja ac Milan pada era Carlo Ancelotti maupun Inter Milan pada era Jose Mourinho. Ac Milan dengan koleksi 7 gelar liga champions maupun Inter Milan dengan 3 gelar liga champions, harus absen dari gelaran kompetisi terbesar di benua biru tersebut pada periode 2 musim terakhir.

Permasalahan yang muncul pada mulanya mungkin adalah faktor keuangan yang sudah menjadi umum hinggap pada tim-tim asal negeri pizza hampir pada satu dekade ini. Sehingga tim asal italia kesulitan untuk bersaing dalam lantai bursa transfer dengan tim dari liga-liga lainnya. Banyak pemain yang enggan berkarir maupun bertahan, semenjak skandal calciopoli pada 2006 yang mengawali runtuhnya kejayaan Seri A.

Angin segar berhembus pada dua tim asal kota mode ini. Pada tahun 2013 Erick Thohir pengusaha asal Indonesia mengakuisisi Inter Milan dari pemilik sebelumnya Massimo Moratti dan Bee Taechaubol konglomerat asal Thailand membeli 48 persen saham Ac Milan dari pemilik klub tersebut Silvio Berlusconi di tahun 2015. Dengan masuknya dua konglomerat asia ini tentunya memberikan suntikan dana baru bagi kedua tim. Dan benar saja, di awal musim ini Inter Milan dan Ac Milan dengan gencar berbelanja di bursa transfer pemain. Tak kurang pemain-pemain ternama didatangkan oleh kedua tim ini, seperti Carlos Bacca, Luiz Adriano, Mario Balotelli, maupun Alessio Romagnoli bek muda potensial yang berani didatangkan dengan harga 25 juta Euro oleh Ac Milan. Sedangkan Inter Milan sendiri mendatangkan Stevan Jovetic, Geoffrey Kondogbia, Jeison Murillo, hingga Miranda pemain yang sempat menjuarai liga Spanyol bersama Atletico Madrid.

Pada awal musim ini Inter Milan sempat memuncaki klasmen seri A pada beberapa pekan,namun mulai pertengahan musim performa mereka mengalami penurunan drastis. Setali tiga uang dengan “saudara sekota”, Ac Milan sendiri sempat menanjak ke papan atas klasmen tetapi seringkali tergelincir ketika menghadapi tim dari papan tengah maupun papan bawah. Namun apa mau dikata, bersaing di papan atas memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Kedua tim sejauh ini belum mampu menyaingi kejayaan Juventus maupun melewati Napoli dan As Roma yang secara bergantian mengisi tempat kedua dan ketiga.

Inkonsistensi memang menjadi masalah tersendiri bagi kedua tim pada musim ini, kedua pelatih Roberto Mancini dan Sinisa Mihajlovic sempat berujar bahwa para penyerang mereka terlalu banyak membuang kesempatan mencetak gol yang membuat pertandingan berakhir imbang maupun kalah. Inter dan Milan memang acap kali tergelincir ketika menghadapi tim-tim medioker maupun papan bawah liga, hasil pada giornata baru ini menjadi pembuktiannya.

Menilik dari problema yang menimpa Ac Milan dan Inter Milan pada beberapa musim terakhir, mari lihat lebih jauh ke belakang. Tepatnya saat dua tim ini menikmati masa jaya mereka, dimana pada musim 2009/2010 Inter Milan mengukuhkan diri sebagai tim Italia pertama yang mampu menyabet tiga gelar utama dalam satu musim atu yang biasa disebut treble winners, dan Ac Milan meraih scudetto mereka yang terakhir pada musim 2010/2011.

Inter Milan treble

 

Scudetto Ac Milan 2010/2011

Pemain-pemain dengan nama besar menghuni kedua tim ini, seperti Zlatan Ibrahimovic, Mark Van Bommel di Ac Milan juga Esteban Cambiasso, Wesley Sneijder pada Inter Milan. Seakan terbuai dengan kesuksesan yang diraih, manajemen kedua tim menjadi lengah dengan tugas mereka dalam hal membangun tim untuk mengarungi kompetisi yang akan datang. Entah lupa atau lalai, mereka tidak menyadari bahwa komposisi skuat yang membawa kesuksesan tengah berada diujung periode keemasan mereka. Pemain-pemain yang menjadi pilar utama tim sudah berada pada kisaran umur 30 an. Ditengah kondisi keuangan yang buruk, gaji besar yang diterima pemain-pemain utama termasuk besar dan memaksa kedua tim untuk melepasnya satu persatu.

Periode inilah yang menjadi penilaian, dimana manajemen tim harus jeli dalam melakukan pembenahan pada komposisi skuat. Apa mau dikata, kebijakan transfer yang buruk membuat fans harus gigit jari. Tertinggal  dalam perebutan scudetto dan gagal lolos ke kompetisi elit benua biru Liga Champions dalam dua musim terakhir. Dalam kondisi keuangan yang sulit, manajemen klub harusnya lebih teliti dengan potensi yang dimiliki oleh skuat yang ada, baik itu dalam tim senior maupun tim junior. Yang pernah menjadi perbincangan hangat tentu saja Davide Santon, digadang sebagai salah satu bakat besar Italia, dilepas oleh I nerazurri pada 2011 dengan harga 5,6 juta Euro, kembali meminjamnya pada 2014 dan menebusnya kembali pada awal musim ini. I rossoneri pun tak lepas dari kesalahan yang sama, bahkan dapat dinilai lebih buruk. Akademi junior Ac Milan yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di eropa bahkan dunia sempat menelurkan talenta berbakat. Pemain yang tengah bersinar musim ini bersama Borussia Dortmund musim ini, Pierre-Emerick Aubameyang,  merupakan produk akademi Milan yang dipromosikan ke tim senior pada 2008, namun tak pernah semenit pun diturunkan pada ajang resmi sehingga dilepas pada tahun 2011.

Pemain muda maupun pemain asli akademi merupakan awal mula kerangka fondasi yang membentuk sebuah tim dan menjadikan setiap tim memiliki karakter nya masing-masing. Pemain-pemain inilah ketika senior nanti yang akan membantu wajah baru untuk beradaptasi ke dalam tim. Tiga besar pemimpin Seri A saat ini tentunya memiliki pangeran nya masing-masing, Juventus bersama Gianluigi Buffon, Claudio Marchisio, Roma dengan maskot mereka Francesco Totti juga Daniele De Rossi dan Napoli dengan Marek Hamsik.

Namun apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Kesalahan masa lalu dapat dikatakan sebagai pembelajaran masa kini. Dengan masuknya angin segar dari para pemilik baru, kedua tim ini memulai kembali membangun fondasi tim yang telah runtuh. Tapi tetap mengingat bahwa kesuksesan tidak dapat diraih hanya dengan satu malam. Sebanyak apapun dana untuk mendatangkan pemain, tetap saja tidak bisa mendatangkan kejayaan dengan instan. Dibutuhkan kesabaran juga kerja keras dari masing-masing tim. Pecinta sepakbola khususnya Seri A pastinya ingin kembali melihat masa kejayaan liga dimana hampir setiap musim nya scudetto diperebutkan oleh 7 tim besar Italia. So, spirito duo Milano, Forza Ragazzi !

(AST)


Pasar Segar